BERAWAL DARI TAUHID BERAKHIR DI TAUHID

Oleh
Hairul Hudaya

Apakah manusia Allah Swt. ciptakan begitu saja tanpa ada tujuan dan hubungan denganNya? Apakah begitu Ia menciptakan manusia lantas bebas memilih hendak beriman atau kafir kepada Nya? Alquran surah al-A’raf ayat 172-173 mengingatkan kita kembali bahwa sejatinya kita terikat kontrak dengan Allah Swt di alam arwah sebelum kita diciptakan. Mereka yang setuju dengan perjanjian tersebut, Allah Swt ciptakan dan di akhirat kelak perjanjian itu Dia tuntut kepada manusia. Kontrak perjanjian tersebut adalah ayat yang berbunyi:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آَبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173)
Artinya:
Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan dari putra putri Adam dari punggung mereka keturunan mereka dan Dia mempersaksikan mereka atas diri mereka ’Bukankah Aku Tuhan kamu?” mereka menjawab: ”Betul! Kami telah menyaksikan”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya kami adalah orang-oran yang lengah terhadap ini” atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan (Tuhan) sebelum ini, sedang kami adalah anak-anak keturunan sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuataan orang-orang yang sesat?”
Ayat ini menegaskan dan mengingatkan kembali kepada kita bahwa antara kita dengan Allah Swt. terdapat kontrak yang harus dipenuhi dalam kehidupan dunia. Kontrak tersebut yang nantinya akan dipertanggung jawabkan dan dituntut. Kontrak yang dimaksud adalah pernyataan bahwa kita akan bertuhankan Allah Swt atau bertauhid dan bersedia taat kepadaNya. Kontrak ini dapat diibaratkan dengan seorang karyawan yang akan melamar pekerjaan namun sebelum ia diterima dan dipekerjakan, pemiliki perusahan akan menuntutnya apakah ia bersedia mentaati dan memenuhi tuntutan kerja di perusahaan tersebut? Bila bersedia maka ia akan diterima namun bila tidak sanggung maka ia akan ditolak bekerja. Demikian halnya keberadaan manusia di muka bumi. Sebelum diciptakan ia terlebih dahulu menandatangi kontrak dengan Allah Swt untuk sanggup bertauhid dan taat selama menjalani kehidupan hingga berakhirnya kehidupan.
Ada dua alasan pada ayat di atas mengapa Allah Swt mengingatkan kepada manusia pentingnya kontrak ini. Dua hal tersebut terkait dengan keadaan manusia kelak di akhirat pada saat mereka diminta kembali pertangung jawaban kontraknya. Manusia sering kali memiliki banyak alasan ketika ia tidak dapat menunaikan tanggung jawabnya. Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyebutkan dua alasan mereka:
Pertama, mereka lalai dan lupa bahwa telah terjadinya kontrak antaranya dan Tuhannya
Kedua, mereka beralasan karena mengikuti jejak orang-orang tua mereka yang telah sesat sebelumnya.
Kedua alasan ini yang akan dikemukakan manusia di akhirat telah dibantah oleh Allah Swt bahkan sebelum mereka berada di alam akhirat. Sehingga tidak ada alasan lagi nantinya ketika mereka diminta pertanggung jawaban terkait kontrak ilahiah tersebut.
Isi kontrak ini tertuang dalam dua ayat tentang tujuan penciptaan manusia. Ayat pertama menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam kerangka beribadah kepadaNya. Dalam Q.S. al-Zariyat/51: 56, Allah Swt. menyatakan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. Ibadah artinya kesediaan untuk bertauhid, menyembah dan mentaati apa yang Dia tetapkan bagi manusia selama menjalani kehidupan dunianya baik terkait perintah maupun larangan.
Kedua, bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Dalam Q.S. al Baqarah/2: 30 Allah Swt. menyatakan:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)
Siapa dimaksud dengan khalifah dalam dialog Allah Swt dengan malaikat di atas? Tidak lain adalah Adam dan turunannya. Peran khalifah ini hanya dapat diemban oleh manusia dan tidak malaikat. Dalam menjalankan amanat khalifah, Allah Swt membekali manusia dengan ilmu dan kemampuannya berfikir sehingga bumi menjadi makmur. Antara ketiga ayat ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Peran khalifah terikat dengan penghambaan atau ibadah. Sementara kewajiban beribadah terikat dengan kontrak manusia dengan Allah Swt. pada saat penciptaannya. Dalam hal ini, peran apapun yang diambil manusia dalam keberadaannya di alam dunia adalah dalam kerangka ketaatan dan ibadah kepadaNya.
Dalam menjalani kehidupan, ketiga hal ini yang harus dipegang oleh manusia. Di persaksikan di awal, dipertahankan di tengah dan dinyatakan di akhir. Saat akan diciptakan kita bersaksi bahwa Allah Swt adalah Tuhan kita karenanya wajib bertauhid. Dalam menjalankan peran sebagai manusia tauhid dibawa dalam bentuk ibadah dan kekhalifahan. Di akhir kehidupan, ditutup kembali dengan pernyataan tauhid.
Untuk maksud tersebut, banyak pernyataan dan doa Nabi Saw. agar setiap Muslim dapat mengakhiri kehidupannya sesuai dengan kontrak awalnya. Nabi Saw. berdoa sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad dari Ubaid ibn Rifa’ah:
اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ
Dalam riwayat Abu Dawud dari Muaz ibn Jabal, Nabi Saw. bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Berdasarkan hadis tersebut para ulama menyatakan bahwa sunah hukumnya mentalqilkan dengan kalimat tauhid kepada seorang Muslim yang dalam keadaan sakaratul maut. Kalimat ini yang dulunya pernah kita persaksikan di hadapan Allah Swt. sebelum kita diciptakan ke alam dunia dan kalimat ini pula yang diulang kembali pada saat ia akan kembali kepada Tuhannya.
Mereka yang membawa kembali kalimat tauhid hingga akhir hayatnya, kata Nabi Saw., mereka lah yang selamat di kehidupan akhiratnya. Dalam riwayat Muslim, Nabi Saw. menyatakan:
لاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ
Hadis ini menegaskan bahwa tetapnya iman seseorang meskipun hanya sebesar biji zarah dapat menyelamatkannya dari api neraka dan memasukkannya ke surga. Sebaliknya, sifat sombong meskipun sebesar biji zarah maka dapat menjauhkan pemiliknya dari surga dan membawanya ke neraka. Akhirnya, kehidupan yang kita jalani ini diawali dari tauhid dan berakhir di tauhid.

Haniah, tnggng jwb laila haillah, tdk ada dalilnya hadis, dalil, atsar, melakukan yg diridhai allah pasti kt dapatkan, memahami seakan memaksakan apa yg inginkan, ada adat, hadis, kt dipaksakan seakan tdk ada dalilnya dlm alquran? Ada org yg memaksakan.
Muaz, Man amila amalan laisa alaihi amruna, bersama rasulullah di Kautsar. Ruh, smpai di tenggorokan
Seolah2
Said rahman, merenung di Ramadhan, laporan dipertengahan, rekaman dibuka di akhirat.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ »

 

About Administrator Website

Check Also

Sikap Rasul dan Sahabat (Memahami Surah Al-Fath Ayat 29)

oleh Kamrani Buseri   Memahami sikap Rasul dan sikap para sahabat beliau, tidak terlepas dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *